here we go :
...
Indonesia Raya
Merdeka merdeka
Tanahku negeriku
Yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia
Raya....
Lagu indah nan megah itu, selalu membuat Arini menitikkan air mata tiap kali ia mendengarnya.
Lagu sakral yang sudah merasuk ke setiap jengkal urat nadi bangsa ini, berhasil mengubahnya menjadi seseorang yang mencintai bangsanya...
Bisa dibilang, Arini adalah gadis yang beruntung. Ayahnya pemilik perusahaan terkemuka di Indonesia. Sedangkan ibunya adalah pemilik galeri logam mulia ternama di ibukota. Jadi mudah baginya untuk kuliah di salah satu universitas terkemuka di Britania, Cambridge University. Arini sejak kecil memang tidak menyukai Indonesia, karena itulah ia memilih pergi dari Indonesia dan kuliah di Britania.
***
"Ariniiii~..." lengkingan suara Jane membuyarkan lamunannya.
"Hmmmm...." balas Arini malas, ia masih mengantuk karena begadang semalaman.
"Pulang kuliah, mau tidak temani aku ke toko buku ?" tanya Jane dengan wajah memelas, "Pleeeaasseeee~....".
"Memangnya siapa saja yang ikut ?", Arini balik bertanya.
"Emily, Edward, Richard, Lucas, Elizabeth, Mary, dan John", jawab Jane penuh semangat.
"Hmmm....Baiklah", balas Arini menyudahi pembicaraan.
Disaat bersamaan, Prof.Peter masuk diikuti seorang gadis cantik, setidaknya begitulah menurut pandangan Arini.
"Disebelah saya ini mahasiswi baru yang berasal dari negara yang sama dengan Miss Arini, namanya Amanda" Seketika para mahasiswa melirik ke arah Arini yang membuatnya salah tingkah.
"Nah amanda, kau bisa duduk di sebelah Miss Arini", kata Prof.Peter.
Hari itu, Arini sedikit senang, dengan Amanda duduk di sebelahnya, ia bisa bercerita padanya tanpa menggunakan bahasa inggris, jadi tak ada seorangpun yang tahu apa yang mereka bicarakan kecuali mereka berdua.
***
Arini menemani Jane dan gerombolan mahasiswa itu ke toko buku, setelah memborong banyak buku setebal bantal, "berjejalan" dalam sebuah photobox, mengelilingi mall hingga terlihat bagai rombongan anak TK di kebun binatang, akhirnya mereka beristirahat di sebuah cafe di mall tersebut.
"Pelayannn~", panggil Arini dengan suara keras, untungnya tidak mengagetkan seisi cafe.
Seorang wanita muda mendatangi meja mereka sambil tersenyum. Arini kaget ketika melihat wajah pelayan muda itu yang sangat familier baginya.
"Lho, kau amanda kan ?", tanya Arini spontan.
"Apa ? Amanda si Anak baru itu ?", timpal Richard.
"Hai, teman-teman. kebetulan sekali kalian datang ke cafe ini. aku bekerja part-time disini. lumayanlah, hasilnya bisa untuk menambah uang saku-ku", ujar Amanda ramah.
"By the way, kalian mau pesan apa nih ? menu cafe ini enak enak lho~", goda Amanda yang langsung disambut gelak tawa dari sekumpulan mahasiswa itu.
Setelah mengantar pesanan teman temannya, Amanda memberikan alamat flat-nya kepada Arini dengan harapan Arini mau mengunjungi-nya jika ia sempat.
***
Semenjak pertemuan di cafe itu, persahabatan Arini dan Amanda semakin erat, mereka bagai saudara kembar yang sulit dipisahkan. Arini pun sering mengunjungi flat Amanda.
"Eh, nda. kamu koq masang bendera dalem kamar sih ?", tanya Arini ketika ia mengunjungi flat Amanda.
"Iya, itu kenang-kenangan dari temen spesial aku, aku pasang supaya aku tetep ngrasa deket ama mereka", jawab Amanda.
"Deket ? Maksudnya ?", tanya Arini dengan ekspresi polos bagai anak kecil.
"Bendera ini tu dulunya punya temen aku, bendera ini saksi bisu kenangan kami waktu kami mendaki Gunung Jayawijaya di Papua", jelas Amanda dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu mau gak ceritain ak tentang pengalamanmu itu ?", tanya Arini.
"Jadi ceritanya, dulu waktu aku masih SMA, aku punya geng yang sama-sama suka bertualang. Nah suatu hari aku sama geng aku itu mendaki Gunung Jayawijaya pas liburan sekolah, rencananya kami mau ngibarin bendera ini di puncaknya, temenku yang namanya Dhani yang bawa bendera ini, tapi di tengah perjalanan dia terpisah dari rombongan kami. Kami pun berusaha mencari keberadaannya sembari meneruskan perjalanan ke puncak. Setibanya di puncak Jayawijaya, kami kaget karena nemu'in Bendera ini sudah berkibar, dan disebelahnya ada jasad Dhani yang udah meninggal kedinginan. Bagiku yang pertama nemu'in jasadnya, ini bagaikan pisau yang menusuk tepat di jantungku. Aku sudah lama jatuh hati pada Dhani, tapi aku gak pernah berani bilang itu ke dia, setelah nemu'in jasadnya sudah tak bernyawa, itu adalah saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Tapi yang bikin aku terharu, dia tetep ngelanjutin untuk mengibarkan bendera ini meskipun dia terkena hipotermia. padahal dia bisa saja turun ke lereng dan memberitahu kami. Rasa cinta tanah air-nya lah yang membuat aku selalu teringat padanya setiap kali aku melihat bendera ini", Amanda bercerita dengan meneteskan airmata, kesedihan tampak jelas di matanya. Membuat Arini menyesal telah memintanya untuk menceritakan pengalaman menyedihkan itu.
"Maaf, nda, aku ngga bermaksud mengingatkanmu sama kejadian sedih itu", sesal Arini.
"Ngga apa apa koq, Karena cinta tanah air yang diajarkan Dhani padaku itulah, aku belajar mati-matian untuk kuliah disini. Aku ingin mempunyai ilmu yang tinggi, dan setelah lulus nanti, akan kugunakan ilmu-ku untuk membangun negeri kita, Indonesia", "Aku percaya, negeri kita tidak membutuhkan suara kita, tapi membutuhkan TINDAKAN kita", kata Amanda sembari menatap Arini dalam-dalam.
Arini terharu mendengar cerita Amanda tentang Dhani yang rela mengorbankan nyawa-nya untuk mengibarkan bendera merah-putih, membuatnya mengerti tentang arti rasa cinta tanah air, dan cerita Amanda menyadarkannya, untuk berubah, untuk mencintai negeri kelahirannya, ia akan ikut berjuang berdsama Amanda, berusaha sekuat tenaga, membangun negerinya, membuat negerinya bangga, untuk selamanya.....
THE END
...
nah readers, itu tadi cerpen yang gw bikin dalam waktu semalem, rada gaje sih, tapi kalo buat ukuran cerpen yang dibikin dalam waktu singkat, mnurut gw ngga terlalu absurd lah. yaudah sekian postingan gw, ntar kapan-kapan gw posting lagi kalo lagi mood